A respondent in Anacondas and Crocodiles area (Catatan sebuah perjalanan)

Catatan berikutnya merupakan kisah perjalanan saya dalam Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia di Kalimantan Selatan. Seperti biasa setelah pendataan di wilayah Banjarmasin (kisah sebelumnya di Banjarmasin pernah di muat di Banjarmasin-Post) dan Barito Kuala selesai, kami bergerak lagi ke daerah Amuntai. Sebuah pengalaman luar biasa yang tak mungkin bisa terlupa. Salah satu daerah di Kalsel yang kental dengan nuansa religius sekaligus mistisnya. Banyak beredar cerita yang saya dengar, hingga saya benar-benar melihat secara langsung dengan mata kepala sendiri)*.  Cukup tentang cerita mistisnya, jangan penasaran dan jangan berusaha untuk penasaran. Oke?

Mengawali hari pertama degan penuh semangat, kami menyusuri rumah demi rumh yang menurut kami lokasinya tidak terlalu sulit. Plus responden yang cukup ramah dan menyenangkan, menjadikan semangat kami berlipat untuk segera menyelesaikan wawancara. Tidak ada yang spesial, selain menu makan siang berupa Burung Bantiung (sejenis burung Jalak liar yang hidup di rawa-rawa). Menu baru yang cukup memanjakan lidah.

Sesuai judul posting ini, ada seorang responden yang berbeda dari biasanya. Berbeda di sini adalah lokasinya yang terpencil dan hidup sendiri jauh di seberang rawa (di pinggiran sungai). Lagi-lagi 6th sense saya diuji, ada perasaan tidak enak menyerang lagi. Tapi karena ini adalah bagian dari tugas, otomatis rasa itu harus dikesampingkan .

Berangkatlah saya dengan seorang petugas wanita dan perangkat desa setempat dengan menggunakan sebuah jukung dengan mesin tempel (perahu kecil). Kalau tidak hati-hati, kemungkinan untuk jatuh ke-air sangat besar. Menyusuri sepanjang rawa, rasa takjub saya kembali tumbuh … sejuknya angin, indahnya pesona rawa, eksotiknya burung-burung liar yang lalu lalang dan gemericik air yang menyegarkan. Meski demikian rasa was-was masih juga mengintai, bunyi gelombang air yang tiba-tiba membuat saya berpikir praktis bahwa ada yang tidak beres dengan sungai dan rawa ini karena tidak ada angin dan tidak ada apapun yang saya amati membuat gelombang atau lebih tepatnya riak air di beberapa titik.

Alhamdulillah dengan susah payah sekitar hampir 30 menit akhirnya kami sampai di rumah responden yang ternyata memang tidak memiliki seorangpun tetangga. Beliau hanya hidup berdua dengan istri dan seorang anaknya. Keadaan rumahnya sangat miris memang.

Wawancara berlangsung cukup hangat dan menyenangkan meski sesekali hati ini teriris mendengar jawaban-jawabn polos yang secara spontan diutarakan beliau. Mulai dari kondisi sehari-hari, anak dan tantangan hidup di alam yang sedemikian kerasnya. Semua cerita beliau membuat saya kembali merenungi diri, alangkah beruntungnya saya yang hidup di lingkungan kerja dan rumah dengan suasana yang cukup menyenangkan. Sambil sesekali telapak tangan saya bergerak menampar ke berbagai arah di berbagai sudut badan, sambil berharap bahwa nyamuk-nyamuk hutan yang mengerubungi badan saya mati dengan mengenaskan. Setelah selesai wawancara, istri responden menyuguhkan kami beberapa kue buatan sendiri seperti puding nangka. Enak dan benar-benar melegakan perut dan kerongkongan yang sedari tadi merintih minta diisi.

Selidik punya selidik, teman saya iseng bertanya, “di sungai ini ada buayanya gak bu?”. Dengan polos beliau menjawab, “banyak buaya di sini, sepanjang sungai ini”. “apalagi kalau malam, buayanya pada keliatan dan jumlahnya banyak. Di sekitar rumah juga ada” tambahnya. Bukan hanya buaya, ular sejenis anaconda atau phyton juga ada di rawa atau sungai-sungai. Lemas sudah kaki ini, berasa tak mampu untuk menjejakkan kaki lagi di jukung kembali ke pos tempat tim kami berkumpul. Dengan berusaha menepis segala keraguan dan ketakutan, sekali lagi doa dan pasrah kembali menjadi senjata utama saya dalam mengarungi sungai dan rawa yang siap memangsa kami sewaktu-waktu. Apalagi langit mulai menunjukkan ke”takramahan”nya pada kami, angin yang cukup kencang dan mendung tebal menjadi penanda bahwa hujan besar akan segera datang menyapu perahu kecil kami.

Alhamdulillah, hanya itu kata yang berulang-ulang kami haturkan pada Nya. Akhirnya kami sampai juga di pos disambut dengan perasaan was-was dan cemas dari bebrapa anggota tim, meski tak sedikit juga yang menimpali kedatangan kami dengan bercanda. Saya hanya diam, berusaha menyembunyikan ketakutan yang baru saja menyerang saya. Ini tak mudah, semakin lama perjalanan ini semakin tidak mudah saja .. tapi itulah tugas, yang harus saya selesaikan. Tugas yang merupakan sebuah langkah kecil untuk membangun negeri ini.

2 comments
  1. Mestinya para buaya itu menampakkan diri, biar bisa dipoto Mas Adi. *eh, sempet gitu moto2 pas panik liat buaya?*

    • Adiw We said:

      sepertinya ini adalah doa buat milla, hmm ntar klo ketremu buaya aceh salam yah.. he3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: