Sepenggal kisah seorang makhluk dimulai dari pinggiran Kota Kediri, berbekal semangat juang dari bapak dan ibu nya mencoba mewarnai dunia dengan tingkah polahnya. Di mulai dari tingkah nakal dan menyebalkan saat beranjak mengerti arti “hidup” di bangku SD Nambaan II, semangat kecilnya menembus keceriaan dan kesedihan yang terus menghampirinya. Dia berharap dengan kenakalan dan prestasi  yang seimbang dapat menjadi suatu bukti hidup bahwa anak-anak adalah masa menyenangkan yang tak melulu di isi dengan belajar dan belajar.

Kisah berikutnya tentang masa-masa pemberontakan. Gejolak pubertas mengajarkan untuk mencari jawaban atas segala permasalahan yang tak pernah ditemuinya di level sebelumnya. Dalam pergolakan di SMP 1 Gampengrejo dia baru merasakan apa yang disebut cinta, persaingan dan konflik. Kata-kata sakti orang tua melecutnya untuk bangkit dari keterpurukan yang hampir saja merenggut kisah berikutnya.

SMA 3 Kediri menjadi pelabuhan terakhirnya di masa “remaja”, ketika pesimistis melanda kedua orang tuanya karena setelah tahap ini memutar otak agar anaknya tetap bisa melanjutkan ke jenjang berikutnya. Bahkan tak sedikit yang mencibir, “mending masuk SMK biar cepet kerja” yang intinya ndak usah kuliah, sadar diri saja … kuliah tuh gak murah. Mending sekolah ke SMK biar cepet dapat kerja.  Tapi entah kenapa batin ini tetap memaksa diri untuk melanjutkan ke SMA meski tak juga mampu masuk ke SMA favorit (karena masalah teknis sebenarnya). Hal ini tak membuatnya patah arang, pembuktian yang memerlukan kerja keras tentang dogma bahwa SMA bukan jaminan untuk sukses di masa mendatang.

Cukup tentang SMA, kembali permasalahan menghampiri . Bukan hidup namanya kalau tidak ada masalah. Berbekal iseng, mendaftar PMDK ITS jurusan Teknik Perkapalan. Berbekal “coba-coba” mendaftar UMPTN jurusan Kesehatan Masyarakat UNAIR. Berbekal “pesimisme” mendaftar di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS). Apapun bekalnya, tapi dorongan untuk bisa “menyenangkan” dan “membanggakan” kedua orang tua begitu kuat. Alhamdulillah ketiga-tiganya lolos. Sempat mengenyam pendidikan meski hanya sesaat di FKM – UNAIR, akhirnya entah kenapa pilihan jatuh pada STIS.

STIS merupakan bagian hidupnya yang cukup penting, karena di situlah terbentuk sikap seorang yang ingin melepaskan diri dari sifat kekanakan dan bersiap melakukan langkah nyata demi mengabdi pada bangsa. Bergumul dengan Jakarta dan statistika adalah tantangan tersendiri. Dua-duanya susah dimengerti dan perlu kerja keras untuk menaklukkannya. Hingga di akhir 2005 diapun kembali diuji untuk membuktikan realisasi konsep pengabdian diri pada negeri.

Pelabuhan yang dituju adalah sebuah kabupaten sunyi di sudut Kalimantan Selatan. Sebuah Kabupaten yang mayoritas wilayahnya merupakan sungai, hutan dan rawa. Kembali lagi berlangsungnya proses diri untuk bisa menaklukan alam dalam menerjemahkan tugas.

Selama kurang lebih 4 tahun bertahan dalam kesendirian, akhirnya Allah mengirimkan teman sejati buatnya. Yang bersedia menyerahkan telapak tangannya untuk digenggam dan menyerahkan keningnya untuk dikecup. Bersedia melepaskan diri dari kedua orang tua untuk berjalan beriringan bersama. Di tengah kebahagiaan dalam menapak jalan yang baru, dia kembali menantang diri untuk menaklukkan ganasnya statistika pada level berikutnya (S2) di tengah hiruk pikuk kota Pahlawan. Setelah kurang lebih 1,5 tahun ITS memberikan pelajaran dan kedewasan hidup yang luar biasa. Selain itu, hadir pula di dalam hidupnya bidadari kecil cantik yang senantiasa memanjakan hidupnya dalam tawa dan bahagia.

And the story goes, kini dia harus kembali ke dalam pelukan dan kelokan Barito dan menjaga kepercayaan dirinya dalam menapak tangga kehidupan yang tampaknya akan sulit …

ups.. sekarang adiw sudah kembali ke pangkuan Tanah Kelahiran.
dan menikmati step hidupnya yang baru di Kota Tahu dan dinas di Kota PATRIA. LIFE is so fun…

Dialah Adiw, yang saat berbicaramenyenangkan!!

(adiw@xxx.go.id) -by request

Advertisements