Misteri Ilahi di Gunung Salak (Kenangan Sebuah Perjalanan)

Kejadian jatuhnya pesawat Sukhoi di daerah Gunung Salak cukup mengundang perhatian masyarakat yang baru saja diguncang isu kenaikan BBM. Tak pelak, banyak kalangan yang mengkaitkan dengan cerita mistis yang kuat dan pekat layaknya kabut yang sering menyelimuti gunung salak. Entahlah, kapasitas saya bukan untuk berkomentar tentang hal-hal mistis yang menurut saya kebablasan.

Intinya tetaplah, kejadian itu atas kehendak Yang Kuasa, Maha Penggagal Rencana. Hikmah harusnya banyak digali dari semua kejadian termasuk kejadian jatuhnya pesawat Sukhoi ini, sehingga membuat kita mampu bergerak maju ke depan agar lebih baik lagi. Mengkait-kaitkan kejadian dengan hal-hal mistis hanya akan menambah beban dan kesedihan di kalangan keluarga korban.

Meski begitu, tak menutup mata di manapun kita berada di hutan, di gunung, di pantai bahkan di rumah selalu ada yang namanya JIN (definisi orang-orang mistis adalah “penunggu”, “sing mbau rekso” dsb). Yang beda adalah ada yang menampakkan diri ada yang tidak, di kisah para Nabi kita juga dituturkan mengenai  apa, siapa dan bagaimana JIN itu diciptakan. Mereka layaknya manusia, ada yang baik ada yang tidak baik. Ada yang beriman ada pula yang tidak beriman. Ada yang tinggal di langit-langit rumah, kamar mandi, kamar tidur, jembatan, pantai, hutan atau gunung.

Makhluk yang selalu menjadi trending topic setiap kali ada peristiwa kecelakaan yang merenggut nyawa manusia, entah apa salahnya dan apa kaitannya dengan peristiwa tersebut.

Lalu, perlukah kita sopan-santun dengan penghuni “halus” yang mendiami suatu wilayah, untuk sekedar lewat? Jawabannya tentu anda sendiri juga sudah paham. Dua alam yang sangat berbeda … coba pikirkan menurut logika. Saya tidak memilih untuk menjawab, karena jawabannya ada dalam cerita berikut. Silakan disimak…

Cukup tentang hal mistis tentang gunung Salak, sedikit menyegarkan ingatan. Saya sudah dua kali mengarungi Gunung Salak hingga ke Kawah Ratu saat kuliah dulu. Yang paling berkesan dan membekas di ingatan adalah yang kedua. Saya berangkat dengan teman-teman satu Kontrakan (MUSAFIR, STIS) yaitu D, Ad, W, Ar, Oc, H dan Sk berjumlah 7 orang. Ketakutan akan medan tentunya bukanlah sebuah halangan, karena di antara kami memang sudah ada yang “berpengalaman” naik turun gunung.
Setelah naik Kereta ke arah Bogor dan (kalau tidak salah) kami menyewa sebuah angkutan untuk mengantar kami ke kaki gunung salak. Setelah itu kami memutuskan jalan alternatif menuju Kawah Ratu yang jarang dilalui orang dengan alasan lebih cepat dan tidak terlalu ramai (pada perjalanan ke Gunung Salak yang pertama, saya tidak lewat jalan ini). Sedikit ragu, tapi keputusan terpusat pada satu orang teman kami sebut saja D (anggota Cheby di STIS). Di  tengah perjalan, dugaan kami meleset waktu tempuh yang seharusnya hanya 3 jam (kami berangkat jam 4/5an) molor hingga 6 jam. Selain peralatan seadanya (senter hanya berjumlah 3 buah), medan baru dan jalan yang mudah berubah karena hujan agak menyulitkan kami untuk identifikasi jalan menuju puncak. Ohh iya, sebelumnya kami melepaskan penat perjalanan di Curug Sewu yang sedang “dahsyat-dahsyat” nya, seakan hendak menumpahkan semua air dari ketinggiannya. Sehingga kami tidak berlama-lama di situ.

Tapi kami tetap ceria di sepanjang jalan dengan banyak bercanda berlebihan (kesalahan fatal pertama). Situasi penuh canda berubah menjadi situasi yang tidak menyenangkan sama sekali antar teman (entahlah kenapa). Hingga kami sepakat untuk sedikit bicara (seperlunya), hingga sampailah kami di puncak (camp area). Berbagi tugas kami lakukan, ada yang ambil air sekaligus wudhu, ada yang masak, ada yang mendirikan tenda dsb. Semua berjalan “tidak menyenangkan”, hingga situasi agak cair setelah kami semua selesai menunaikan sholat dan makan. Sebuah hikmah terpetik dari sini, ketenangan jiwa membuat manusia bisa berpikir jernih dan banyak bercanda/tertawa akan mengeraskan hati kita untuk kemudian mengeruhkan pikiran dan emosi.

Kami membuat dua tenda (di tempat kami ada 4 orang, si Oc, Sk, H dan saya sendiri) sisanya adalah si D, Ar dan W. Kalau tidak salah di sekitar tenda yang kami tempati, dibuat parit jaga-jaga sewaktu-waktu hujan agar kami tidak kebanjiran dan bisa tidur dengan nyaman. Sedangkan tenda satunya tidak dibuat parit dengan alasan “langit cerah penuh bintang gini, gak bakalan hujan deh”. Saya juga sudah mengingatkan, tidak ada ruginya kan kalau jaga-jaga. Waktu itu tak ada gubrisan. Ya sudah, kami kembali ke masing-masing tenda tidur untuk melepas kelelahan yang seharian membelenggu.

Selang beberapa jam (saya tidak ingat, sekitar jam 2 malam), hujan turun dengan sangat derasnya. Yang tanpa ampun melibas tenda kami. Tak ada masalah berarti dengan tenda kami, karena air hujan memang sudah dibuatkan jalan. Tapi tidak halnya dengan tenda teman kami, kebanjiran dan hampir ambruk. Mereka pontang-panting menyelematkan barang bawaan dan membangunkan kami untuk menumpang di tenda. Wew, rasa kasihan dan persahabatan ternyata mengalahkan rasa ketidakihlasan dan kekesalan kami. Akhirnya jadilah kami tidur ber-7 dalam tenda yang di design hanya untuk 4 orang. Bisa tidur? Anehnya kami bisa meski entah seperti apa formasinya. Hikmah kedua, jangan pernah sesumbar dan sombong mendahului ketentuan Allah.

Paginya kami sudah sangat segar dan siap melanjutkan perjalanan ke Kawah Ratu, tak ada satupun dari kami yang tidak tersenyum. Semua senang dan berulangkali berucap kalimat-kalimat hamdalah, Tasbih dan Tahlil. Fajar yang indah, kawah belerang yang memukau membuat kami lupa segala kelelahan yang kami bawa di pundak. Jeprat-jepret mengabadikan semua momen indah bersama teman karib membuat cerita hidup di dunia ini menjadi lengkap.

Hikah demi hikmah saya temukan dari pelajaran atas kejadian-kejadian atau cobaan yang diderakan oleh Tuhan pada saya, termasuk dalam perjalanan ke Gunung Salak (6 tahun yang lalu). Jadi, sebelum mengarah ke cerita mistis alangkah baiknya kita selalu intropeksi diri atas kesalahan kita pada Sang Khalik.

Note: Wahai temanku sang MUSAFIR, kemanakah kalian berada? Rindu sekali ingin bersua …

5 comments
  1. muh fauzan akbar said:

    Hadiiiir… Oc menyapa :))
    Walopun susah, yakin kita msh bisa bertemu lagi dlm formasi lengkap. Blog nya bagus, lanjutkan. Sukses sahabatku

    • Adiw We said:

      yup, insya Allah..kangen banget ma kalian..

  2. Musafir? Kontrakan paling bikin mupeng karna luas dan ada kamar mandi dalem. *salahfokus*

    Baru tahu saya kalo di sekitar tenda perlu dibuat parit.

    • Adiw We said:

      setelah angkatan kami, sepertinya terbengkalai ..
      yup, wajib pakai parit

    • Adiw We said:

      lho kok tahu ada kamar mandi dalam?hayoooo… ngapain di dalam kamar?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: