Ragu dengan Data BPS?

Apakah temans adalah salah satu dari sekian banyak orang yang ragu dengan data yang dirilis oleh BPS atau Badan Pusat Statistik? entah itu data inflasi, kemiskinan, kematian bayi, IPM, PDB dan PDRB, harapan hidup, data penduduk, produksi tanaman pangan, ekspor-impor dan sederet data-data dasar dan strategis lainnya? Atau mungkin temans ragu bahwa data yang dikeluarkan BPS adalah data “apa adanya’ dan bukan data “pesanan”?
atau jangan-jangan temans memiliki data tandingan yang jauh berbeda dengan yang dikeluarkan oleh BPS? misalnya dari instansi/institusi/ lembaga lainnya? Lalu apa pentingnya statistik untuk negara ini?
hanya akan menghambur-hamburkan uang rakyat?

Calm down temans, saya akan mencoba memberikan gambaran (sedikit) mengenai data statistik dan apa manfaatnya. Saya akan coba tanggalkan baju birokrat saya dan menggantinya dengan baju seorang akademisi (inspired by Panusunan Siregar).
Mengenai gambaran tentang apa itu statistik, bisa dilihat pada artikel-artikel di blog ini.

1. Membangun suatu wilayah dengan statistik atau data itu mahal, akan tetapi jauh lebih mahal jika pembangunan di suatu wilayah/daerah dilakukan tanpa ada dasar atau data rujukan. Bayangkan jika pemerintah membangun suatu sarana sekolah misalnya tanpa tahu ada tidaknya siswa di wilayah tersebut, yang ada sekolah yang dibangun hanya akan menjadi bangunan tua yang tak terpakai. Hitung sendiri kerugian yang dialami negara karena hal ini?

2. Di tiap negara, pemerintah memiliki suatu lembaga sah negara yang khusus menangani tentang data atau statistik begitupun juga dengan Indonesia. Beberapa jenis datanya merupakan variabel-variabel yang konsep dan definisinya berlaku secara international, sehingga dapat dibandingkan antar negara. Jadi mengenai konsep penduduk, penduduk miskin, pertumbuhan ekonomi, pengangguran dsb sudah merupakan konsensus dunia. Masihkah temans meragukan konsep penduduk miskin? pengangguran?.. mengganti dengan konsep yang ada di benak temans semua? Berarti temans sudah dan akan mengesampingkan konsep yang sudah disusun di seluruh negara yang melalui pemikiran bersama para ahli-ahli statistika dunia. Bukankah Rosul pernah mengingatkan kita, “serahkan suatu urusan kepada ahlinya, kalau tidak tunggulah kehancuran kalian” CMIIW.

3. Sampel, Populasi, survey dan sensus merupakan bagian dari statistika yang merupakan ilmu pengetahuan yang diakui di berbagai belahan dunia dengan mempertimbangkan sampling error dan non-sampling error. Ragukah temans dengan sampel yang didata atau diambil oleh BPS? Padahal metodologi statistika (sampling) yang digunakan sudah sangat jelas dan memenuhi kaidah-kaidah akademik.

4. Misal seorang “pengamat” menemukan ada “misal” rumah tangga yang seharusnya miskin (menurut pengamatan si pengamat dan saya) tetapi tidak tercatat di daftar Rumah Tangga Miskin yang dirilis oleh BPS. Hey bro, petugas juga manusia biasa … ada yang baik ada yang nakal. So, human error juga berperan. Sebagus apapun metode statistika dan sampel yang terpilihnya, tapi kalau ada petugas yang “nakal” yahh data yang dihasilkan tentunya akan terkontaminasi “kenakalan” petugas. Jangan mengharapkan bahwa data harus mutlak 100% benar. Perfection is God’s right.

5. Yakinlah bahwa data akan membuat arah dan obyek pembangunan menjadi lebih jelas.

6. Jika data yang disajikan oleh BPS tidak sesuai dengan kehendak “pemerintah” akan tetapi sesuai dengan keinginan “rakyat”, maka data BPS dinilai  salah/meragukan menurut “pemerintah” dan benar menurut “rakyat”. Hal ini berlaku sebaliknya. C’m on, tak perlulah meributkan tentang datanya, hanya akan menghabiskan energi dan waktu kita … tetapi kebijakan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi problem yang sudah dipotret oleh data tadi. Tunjukkan prestasi, jangan meributkan evaluasi.

7. Moral hazard yang menimpa responden. Sebagus apapun metodologinya, seminim apapun tingkat non-respon, seprofessional apapun petugas pendata .. yahh semua hanya akan sia-sia dan semakin “membuat” data acak-acakan kalau responden bersikap acuh, tak jujur dan “tidak apa adanya”.

Well, waktunya menjadi warga yang cerdas. Jadilah petugas yang professional, utamakan data yang berkualitas untuk membangun negeri. Jadilah responden yang care, jujur dan kritis.

[spoiler]Data statistik bisa membuat kita tahu apakah “pemerintah” sedang berbohong atau tidak.. Maksudnya? cari tahu .. dengan jarimu

18 comments
  1. agung andiojaya said:

    Iya Mas, saya sendiri juga ragu dengan data BPS,,hehe

    • Adiw We said:

      wedew.. Ahli statistika kok ragu dengan statistik.
      he3

      • agung andiojaya said:

        Ya itu Mas,,karena ahli statistik itu jadi ragu dengan data BPS nya,,hehe,,tapi ya apa mau dikata, data diluar sana malah lebih gak karuan lagi, jadi tetep untuk sementara ini data BPS yang paling yahud…^^

      • nah gitu dunk, at least kita masih “independen”..

  2. Kalo soal petugas nakal, saya justru mengharapkan masyarakat jadi ‘pengendali’. Mereka bisa lapor ke BPS bila ada petugas yang bertugas tidak sesuai prosedur.
    Dan kalau masyarakat jadi responden, diharapkan bisa jujur, agar data yang kita olah juga benar.

    • Adiw We said:

      siiippp…
      istilahnya peran dua arah … petugas OK, responden juga harus OK.

    • “Be objective” will save you from the “ruins”.
      well, be smart then..🙂

    • Adiw We said:

      komennya ga ilang bro, he3..tuh nongol dgn sangat baik

  3. raizen said:

    ragu sih nggak, kalau kecewa iya… sebagai pengolah kerap kali menemukan kualitas isian kuesioner yang nyeleneh semisal pengeluaran untuk sabun dll sebulan cuma 10 rb padahal orangnya ber 5.. sama pencacah dah dikasih tahu biar ada perbaikan tapi triw berikutnya gt lagi haha dan lebih kecewa sama yang buat kuesioner tsb, ratusan item pertanyaan gimana responden gk klenger

    • Adiw We said:

      Pernah mencoba jadi pencacah?
      Kalo belum, ga pas rasanya kalo berkomentar tentang susenas semudah ini. Bukan hanya responden yang kelenger, petugas juga lebih kelenger..
      Menurut “ahli”,kuesioner susenas modul konsumsi ini sdh yg “paling sederhana” untuk merumuskan “kemiskinan”.
      Mungkin,harus ada penelitian lagi untuk menyederhanakab kuesioner yg lbh padat dan ringkas. Enak untuk responden, petugas&pengolah data

  4. kamal said:

    emang sosialisasi ke responden kaya apa, kok respondennya gak care, gak jujur, gak kritis? **eh eh eh…emang ada gitu sosialisasi ke responden?

    • Adiw We said:

      survey perlu sosialisasi? baru tahu saya … hehehe

      • kamal said:

        Hla emang kalo kagak ade sosialisasinye, mereka pade ngerti maksud dan tujuan survei? Saya rasa sih mengedukasi responden akan sama pentingnya dengan mengedukasi petugasnya.
        atau mungkin memang gak perlu ya…pokoke ini tugas negara, ane nanya, ente kudu jawab. kalo gak mau, ane kasih UU ttg statistik. oo…really??

      • Adiw We said:

        tenang aja bro, responden sekarang “hampir dapat dipastikan” akan selalu tanya tujuan/kegunaan/maksud survey.
        So, alokasi “dana” untuk sosialisasi officially belum diperlukan (menurut yang di atas sana: “pemborosan”)
        Petugas: “selamat siang, kami petugas survei blabla bla”
        Responden: “maaf saya gak mau di data”
        Petugas: “survei ini penting lho pak, untuk negara kita juga bla bla bla bla”
        Resp: “pokoknya saya gak mau di data”
        Petugas: “ohh ya sudah, saya tulis bapak meolak untuk menjawab yah? terima kasih dan selamat siang pak”

        UU Statistik? lagi-lagi hanya sebuah retorika bukan?

  5. kamal said:

    Are we really independent?
    **just a rhetoric question.

    • Adiw We said:

      karena hanya retorika, jawab sendiri yah?hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: